Bagian 2: Ketika Sunnah Dibilang Bid’ah, Dan Ketika Bid’ah Dibilang Sunnah

Posted on 26 Agustus 2010

0


Hadirin hadirat sampailah kita kepada Hadits Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang memberikan tuntunan dan kejelasan dari beberapa banyak makna yang bisa kita kupas dari Hadits ini, Yaitu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, diriwayatkan oleh Sayyidatuna aisyah Ra Ummul Mu’minin, Bahwa ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengobati salah seorang Sahabat yang sakit, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bacaan doanya ini: “Dengan Nama Allah subhanahu wata’ala, demi tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami disembuhkanlah yang sakit dari kami dengan izin Tuhan kami”.

Di riwayatkan oleh Imam Nawawi Hujjatun islam wabarakatul anam, di dalam syarah nawawi ala shahih Muslim, bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membaca do’a ini lalu setelah membacanya beliau menempelkan ibu jarinya ke lidah beliau lalu menempelkannya di Bumi dan di usapkan kepada yang sakit.

Hadirin, berkata Hujjatun islam wabarakatul Anam Al Imam Nawawi Alaihi Rahmatullah, juga Al Imam Ibn Hajar Al ‘Asqalan Alaihi Rahmatullah, bahwa tanah bumi adalah asal muasal manusia, demikian pula air liur, karena asal muasal manusia adalah dari tanah dan air, setiap benda yang ada di alam ini mengandung rahasia keagungan Ilahi, namun perbuatan ini, Hadits ini saya munculkan agar jangan sampai sebagian dari kita memahami bahwa hal seperti itu syirik, benda-benda bisa memberikan manfaat dengan izin Allah subhanahu wata’ala, dan itu di perbuat oleh Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan benda yang di sentuh para shalihin membawa keberkahan, dipakai berdo’a oleh para shalihin membawa keberkahan bukan bendanya tetapi sentuhannya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah. Dikatakan oleh Al Imam Ibn Hajar Al ‘Asqalani Alaihi rahmatullah, di dalam fathul bari bisyarah Shahih Bukhari bahwa sebagian pendapat mengatakan ini khusus untuk tanah Madinatul Munawarah, bukan untuk semua tanah di dunia namun pendapat yang lebih kuat kata beliau adalah semua tanah di dunia karena Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Biriiqati ba;dhina” yaitu juga berkata “Demi air liur sebagian dari kami”, tidak perlu banyak-banyak Cuma menempelkan di ibu jari di lidahnya dan menempelkannya di bumi, di usapkan kepada yang sakit ini salah satu cara pengobatan Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Dan hal ini terbukti seecara kedokteran, Profesor Masaru Emoto, sudah terkenal bukunya, dia menemukan air itu jika orang berdzikir di hadapannya, berbicara dengan ucapan baik, ucapan yang mulia dan luhur air itu jika di lihat pada skala tertentu di mikroskop berubah menjadi indah bentuknya, jika di hadapannya orang yang marah dan mencaci maki, emosi dan lainnya di liat dari mikroskop dalam sekala tertentu bentuknya menjadi hitam dan buruk, Hadirin hadirat terbukti dalam kedokteran baru di temukan, hal ini sudah ada 14 abad yang silam diketahui Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semakin kita mengikuti sunnah semakin modern kita, semakin kita meninggalkan sunnah semakin kita di dalam ke kunoan atau keterbelakangan, semakin kita mengikuti sunnah semakin kita modern, inilah sunnah Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasul sudah mengetahui air liur berubah dengan Dzikir, Demikian lalu di sentuh air liurnya, lalu di tempelkan di bumi lalu di usapkan kepada yang sakit demikian, kalau mau di coba silahkan di coba, oh saya mencoba tapi tidak berhasil, tidak berhasil tetapi tidak mengingkari sunnah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak berhasil ada di dalam diri kita kekurangannya, namun tentunya dari pengobatan yang lain tidak ada salahnya kita mencoba pengobatan Sayyidina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Benda-benda yang di sentuh dengan Dzikir para Shalihin para Rasul dan para Nabi di muliakan Allah subhanahu wata’ala, oh berarti pusaka itu boleh ?
oh itu tanda kutip, benda-benda pusaka apapun kalau bekas pegangan para orang yang tidak menyembah selain Allah, diganti malah jadi musibah, malah jadi bala, malah jadi jauh dari dan kesempitan dari kehidupan kita karena bekas sentuhan orang-orang yang tidak menyembah Allah, orang membunuh orang-orang muslimin barang kali, namun kalau bekas sentuhan para shalihin itu membawa keberkahan, jadi yang lebih jelas lagi dari hadits ini adalah Firman Allah subhanahu wata’ala, bahwa Allah subhanahu wata’ala berfirman :
Ketika salah seorang Bani israil di perintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala, untuk mengangkat Thaluth sebagai Raja, memimpin peperangan melawan Raja Jaluut di masanya yang kemudian yang pemandunya Adalah Nabi Daud As, Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Maka orang-orang menolak “ngapain memakai si Thaluut ini sebagai pemimpin Raja kita, dia tidak punya harta, bukan bangsawan, bukan keturunan Raja, tidak punya banyak pengikut, ngapain di jadikan pemimpin” Maka Allah ceritakan kejadian ini pada Nabi Mauhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Sungguh tanda-tanda kepemimpinan Thaluut adalah datangnya peti, yang membawa ketenangan dari Tuhan kalian, yang berisi barang-barang peninggalan bekas-bekas pakaian yang di sentuh oleh keluarga Nabi Musa dan keluarga Nabi Harun, dibawa oleh para Malaikat, sungguh pada hal itu terdapat tanda-tanda bagi kalian jika kalian beriman”
(QS Al Baqarah 248).

Ingat dari Firman allah mengatakan :
“datang kepada mereka satu peti yang membawa ketenangan dari Tuhan mereka”
Kok peti bawa ketenangan?
Inilah firman Allah jika kamu muslim maka akuilah ini adalah firman Allah :
”sungguh pada hal itu terdapat tanda-tanda bagi kalian jika kalian beriman”.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Allah berfirman maka tanda kekuasaannya adalah di datangkan peti. Tanda-tanda kekuasaannya Thalut itu adalah datangnya peti yang padanya terdapat peninggalan-peninggalan, bukan peninggalan Nabi dan Rasul saja, karena disebut Ahlu Musa dan Al
Harun, yaitu Keluarga Nabi Musa dan Keluarga Nabi Harun As, Allah berfirman bahwa bukan barang peninggalan Musa dan Harun saja (tapi keluarganya), Kita lihat di tafsir, silahkan buka tafsir, Tafsir Imam Ibn Katsir, Tafsir Imam lainnya, semuanya menjelaskan apa isi peti itu, bekas bajunya Nabi Musa, bekas pakaiannya Nabi Musa, bekas sandalnya Nabi Harun bekas sandalnya keluarganya Nabi Musa dan Nabi harun, semuanya di dalam peti itu. Diriwayatkan dalam tafsir Imam Attabari juga Tafsir Imam Ibn Katsir dan lainnya bahwa peti itu di curi oleh orang-orang yang memusuhi Nabi saat itu, di curi lalu di taruh di bawah patung sesembahan mereka, taruh ! besok paginya peti itu sudah berada di kepala patungnya, di pindahkan lagi di bawah patungnya, besoknya pindah lagi ke atasnya, akhirnya di pendam tidak bisa lagi keluar petinya, esoknya patungnya sudah roboh, petinya muncul di atas bumi, dan sejak kejadian itu, siapapun yang menyentuhnya mati, selama dia bukan beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, maka peti itu di bawa oleh para Malaikat, di bawakan kepada Thaluut dan kemudian dia memimpin Kerajaan.

Jelas sudah benda-benda sentuhan para Shalihin membawa keluhuran, ini firman Allah maka Imanilah jika kau muslim, namun tentunya tidak semua benda itu jangan sampai kita mengarah kepada kerusakan Tauhid, bukan bendanya yang mempunyai kemuliaan tapi yang menyentuhnya yang mulia dan Sang Maha Mulia yang Memuliakannya.

Seperti Hajar Aswad di riwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Berkata Sayyidina Umar bin Khatab Ra : “kau Hajar Aswad adalah batu, tidak bisa membawa manfaat dan mudharat, kalau bukan karena Rasulullah yang menciummu aku tidak akan menciummu” Hajar Aswad adalah batu tidak bisa membawa mudharat dan manfaat, tapi setelah di cium Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam…!, setelah di cium Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam..!!, maka orang berebutan menciumnya karena di sentuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat banyak riwayat lainnya, lebih dari 12 riwayat dalam Shahih Bukhari, di dalam Shahih Muslim lebih banyak lagi dan juga di dalam shahih lainnya bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memperbolehkan Tabaruk yaitu mengambil Barakah dari sentuhan beliau, yaitu diantaranya saat kejadian di perjanjian hudaybiyah di saat itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, di mata-matai pasukannya oleh Urwah, Riwayat Shahih Bukhari, mereka saat itu berkata “aku melihat Perbuatan rakyat pada Kaisar Romawi, aku melihat perbuatan rakyat pada kaisar Persia, aku melihat perbuatan rakyat pada kaisar Najasi, tidak pernah aku melihat ta’dzim, kemuliaan yang di berikan rakyat kepada rajanya”, seperti kemuliaan yang diperbuat sahabat Muhammad kapada Nabi Muhammad Saw, tidaklah beliau memerintah kecuali para sahabat berdesakan untuk segera menjalankan perintah beliau, tidaklah beliau berwudhu kecuali mereka berdesakan berebutan, mengambil air bekas wudhunya Rasul tidak melarang, Rasul tidak mengatakan syirik, Rasul tidak mengatakan Kultus.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Bahkan di riwayatkan pula di dalam Shahih Bukhari, ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu, lantas beliau berkumur, beda keringat Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu sangat wangi demikian pula air liurnya beliau berkumur dan berwudhu, lalu berkata para sahabat, minumlah begitu seorang sahabat datang mendekat kepada beliau, Rasul berkata “minumlah ini” demikian Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan Tabaruk, yaitu mengambil barokah dari bekas-bekas para Shalihin dan Beliaulah Imam para shalihin Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Sayyidina Anas bin Malik Ra, menyimpan beberapa helai rambutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jika ia akan wafat ia wasiat di masukkan ke kafanku ini nanti potongan-potongan rambutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, masukkan ke dalam kain kafanku di dalam rambutku disaat aku dimakamkan.
Apakah itu Syirik ? ini perbuatan shahabat diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ini perbuatan Anas bin Malik Ra, Anak Angkatnya Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang di besarkan Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari mulai kecilnya sayyidina Anas bin Malik Ra.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Ibundanya sayyidina Anas sendiri yaitu ummu Sulaim Ra, diriwayatkan di dalam Shahih Muslim ketika Rasullullah sedang tidur maka ibundanya ini sudah lanjut usia ummu Sulaim Ra melihat Rasulullah itu keringatnya menetes karena panas, maka ia mengambil bejana kecil atau mangkok kecil menadahi keringat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sangat wangi, sebagaimana Riwayat Shahih Bukhari : “Tidak pernah kami temukan kata Sayyidina Anas bin malik, minyak wangi yang lebih wangi dari keringatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika Rasul saw tidur di rumah Ibud anas, yaitu Ummu Sulaim, maka Rasul saw berkeringat, maka ia (ummu sulaim ra) menadahi keringat itu, maka bangun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “apa yang engkau perbuat Ummu Sulaim? berkata Ummu Sulaim kami hanya mengambilnya untuk berkah untuk anak-anak kami yaa Rasulullah, Rasul saw berkata sudah kau dapatkan, (Shahih Muslim), Rasul saw tidak mengatakan syirik ataupun kultus.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, demikian penjelasan sekilas tentang hadits ini, hadirin hadirat yang di muliakan Allah, kita memahami rahasia keluhuran di munculkan oleh Allah subhanahu wata’ala, dengan bekas-bekas para Nabi dan Rasul diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa ketika sayyidina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat salah seorang sahabat memunculkan sehelai rambut yang kemerah-merahan, Sahabat lainnya berkata “Rambut siapa itu?” ia berkata : ini sehelai rambutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sahabat lainnya berkata : ”bagiku sehelai rambutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih mulia dari dunia dan segala isinya”, demikian para sahabat Rasul.

Hadirin hadirat maka tentunya kita mengikuti ajaran guru-guru kita yang bersambung sanadnya kepada imam-imam kita yang bersambung sanadnya kepada para sahabat Nabi kita, dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang membawa ajaran Al Qur’an nulkarim.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, jangan sampai kita terjebak pada memvonis orang-orang muslim sebagai musyrik, karena mengambil barokah dari para Shalihin hal itu di ajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak di kenal lagi di akhir zaman karena sedikitnya ulama, makin hari makin sedikit ulama, sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam :
Allah subhanahu wata’ala tidak mencabut ilmu itu mencabutnya dari hati sanubari tapi dengan wafatnya para ulama mulai sirnalah ilmu, hadirin hadirat sampai Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “tidak lagi satu wilayah tersisa ulama sampai habis ulamanya, maka mereka mengambil orang-orang bodoh sebagai para ulama maka mereka di Tanya, mereka berfatwa tanpa ilmu. maka mereka sesat dan menyesatkan, zaman sekarang sunnah dibilang bid’ah, bid’ah dibilang sunnah, para ulama di bilang dukun, dukun dibilang ulama, dukun dibilang wali, wali dibilang dukun.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah , inilah keadaan akhir zaman, namun semoga Allah swt memperbaiki aqidah saudara saudari kita , dan memuliakan barat dan timur dengan kebangkitan generasi ulama.

Sumber: Majelis Rasulullah