Beberapa Hal Yang Boleh Dilakukan Oleh Orang Yang Berpuasa

Posted on 17 Agustus 2010

0


1. Mandi untuk mendinginkan badan
mandi.jpg

Diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Abdirrahman, dari sebagian Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Aku telah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di al-‘Arj (nama sebuah desa yang berjarak beberapa hari perjalanan dari Madinah) sedang menyirami kepalanya dengan air, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa, karena haus atau panas yang menyengat.” [Shahih:Shahih Sunan Abi Dawud (no. 20727), Sunan Abi Dawud (VI/492, no. 2348)]

2. Berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan tidak berlebih-lebihan
wudhu3.JPG

Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Artinya: “Dan lakukanlah istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dengan sangat kecuali jika engkau dalam keadaan puasa.” [HR. AtTirmidzi, ia berkata: “Hasan Shahih” dan Abu Dawud]

3. Hijamah (berbekam)
P1000471.JPG

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Bahwa Nabi pernah berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa.” [Shahih: Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2079), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/174, no. 1939), Sunan Abi Dawud (VI/498, no. 2355), Sunan atTirmidzi (II/137, no. 772), dengan tambahan: “… Dan ia dalam keadaan ihram.”]

Akan tetapi berbekam dimakruhkan jika ia khawatir menyebabkan badan menjadi lemah. Diriwayatkan dari Tsabit al-Banani, dia berkata, Anas bin Malik pernah ditanya, “Apakah kalian membenci berbekam bagi orang yang berpuasa?” Dia menjawab, “Tidak, kecuali jika menyebabkan badan menjadi lemah.” [Shahih: Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 947), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/174, no. 1940). Dan termasuk dalam hukum hijamah ini, donor darah, jika orang yang mendonorkan darahnya khawatir akan dirinya, maka dia tak boleh melakukannya di siang hari kecuali jika terpaksa.]

4. Bercumbu dan berciuman bagi mereka yang mampu menahan dirinya
Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia pernah bercerita, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu yang saat itu beliau tengah berpuasa, hanya saja beliau adalah orang yang paling kuat menahan hawa nafsunya di antara kalian.” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/149, no. 1927), Shahiih Muslim (II/777, no. 1106 (25)), Sunan Abi Dawud (VII/9, no. 2365), Sunan at-Tirmidzi (II/116, no. 725)]

5. Bangun setelah waktu Shubuh tiba dalam keadaan junub
Berdasarkan apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati fajar telah terbit sedang beliau dalam keadaan junub karena bercampur dengan isterinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih alBukhari (Fat-hul Baari IV/143, no. 1926), Shahiih Muslim (IV/779, no. 1109), Sunan Abu Dawud (VII/14, no. 2371), Sunan at-Tirmidzi (II/139, no. 776)]

6. Melanjutkan puasa hingga waktu sahur
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Artinya: “Janganlah kalian menyambung puasa dan barangsiapa di antara kalian ingin melakukannya, maka hendaklah ia menyambung puasanya hingga waktu sahur. ” Para Sahabat bertanya, “Bukankah engkau juga menyambung puasa wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Keadaanku tidak seperti kalian, sesungguhnya Allah telah menyiapkan aku penjaga yang akan memberiku makan dan minum.” [Shahih: Shahiih Sunan Abi Dawud no. 269, Shahiih alBukhari (Fat-hul Baari IV/208, no. 1967), Sunan Abu Dawud (VI/487, no. 2344)]

7. Bersiwak, memakai wangi-wangian, minyak rambut, celak mata, obat tetes mata, dan suntikan
1216029_parfum10ccfreealkohol-kecil indonetwork.web.id.jpg

Dasar dibolehkannya semua ini adalah hukum asalnya yang terlepas dari larangan (al-Bara’ah al-Ashliyah), jika hal tersebut diharamkan bagi orang yang berpuasa niscaya Allah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.

“Dan tidaklah Rabbmu lupa.”
[QS. Maryam: 64]

Sumber Rujukan: Panduan Fiqih Lengkap Jilid 2, ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, hal 71-73

Sumber: shalihah.com
Gambar: wahyupnguinea.wordpress.com, asshidayat.blogspot.com, nazwaa.blogspot.com, indonetwork.web.id.

Posted in: Hukum Fiqh