Bagaimana Hukumnya Minum ASI / Air Susu Istri?

Posted on 8 Agustus 2010

1


Jembatan cinta TanjungSamak by Zulfa.jpg

Ini hanya sekedar guyonan, tapi guyonan ini ada ilmunya, bukan hanya guyonan kosong. Hanya saja, karena penulis nggak pandai guyon, kalau ndak lucu ya ndak apa2, itung2 belajar nulis dan mencoba berbagi ilmu.

Saat itu kami mengadakan acara pembacaan Rotibul Hadad di rumah Kang Atah yang berada di Parit Tengah, Tanjung Samak. Cerita ini diceritakan oleh Haji Din yang merupakan seorang Ustad / kiyai dari Parit Lapis, Tanjung Bakau. Cerita ini saat ia ada tamu yang merupakan teman akrab, yang udah biasa bercanda dengannya. Ceritanya kurang lebihnya begini:

”Assalamu’alaikum…”

Haji Din: ”Wa’alaikumussalam. Silakan masuk”.
Lalu tamu masuk, dan duduklah mereka di ruang tamu.
Tamu: ”Aku ada perlu ini”.
Kelihatan tamunya tampangnya serius nih. Haji Din pun penasaran dan bertanya: ”Ada apa? Coba ceritakan”.
Tamu: ”Tadi malam saat bermesraan dengan istriku, ASInya terminum olehku, padahal yang aku tahu, kalau kita minum air susu seseorang kita akan jadi anaknya”.
Dengan sedikit tersenyum Haji Din bilang: ”KAPOK”.
Ya jelas saja si tamu makin sedih dan bingung, dia mengeluh: ”koq ya tadi malam terminum ASI istriku, masak aku jadi anak istriku”.
”KAPOK he he he”.
”Gimana ini, padahal ini istri lho”.
”KAPOK he he he”.
”Gimana ini, kasih solusinya dong, jangan ketawa terus”.
Akhirnya dengan tersenyum Haji Din bilang: ”Nggak apa2 koq, kamu nggak jadi anaknya, kamu tetap jadi suaminya”.
Tentu si tamu heran: ”Koq bisa?”
”Umur kamu sekarang berapa?”
”Ya kurang lebih 30 tahun lah..”
”Yang umur 3 tahun aja minum ASI ibu orang lain aja nggak jadi anak susuannya apalagi kamu yang udah 30 tahun”.
Akhirnya si tamu manggut2 dengan wajah cerah dan ujarnya: ”Jadi gitu ya..”
”Iya. Untuk jadi anak susuannya orang lain ada syarat2nya, yang pertama: umurnya 2 tahun ke bawah, dan yang kedua si bayi nyusunya dalam satu sedotan harus sampai kenyang / puas. Dalam arti si bayi berhenti nyusu bukan karena ditarik atau karena digoda lalu berhenti nyusu”. Ujar Haji Din menjelaskan.
”kalau gitu terima kasih Ji”. Kata si tamu. ”Aku mau balik dulu”.
”Ya, emang udah malam”.
Lalu sang tamu pun keluar: ”Assalamu’alaikum”.
”Wa’alaikumussalam”.

Begitulah ceritanya sobat, dan tentu saja selama Haji Din bercerita kami semua tertawa, Kang Rir pun bertanya: ”Bagaimana kalau susunya dimasukkan ke dalam gelas?”
”Kalau sekiranya si bayi kenyang / puas, ya sama saja. Atau kira2 berapa puasnya si bayi menyusu dalam satu sedotan, maka dihitung satu sedotan yang mengenyangkan”.

Begitulah postingan saya hari ini, kurang lebihnya mohon maaf, semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Wallahu A’lam.

Posted by Wordmobi

Posted in: Hukum Fiqh