Air Mata Yang Mahal

Posted on 21 Juni 2010

0


airmata_.jpg

Rasullulah SAW bersabda, “Tiada suatu yang lebih kusukai dari dua tetesan, yaitu tetesan darah yang tumpahan darah karena jihad fisabilillah dan tetesan air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah” (HR Turmudzi).
Dalam riwayat lain, “Tiada setetes yang lebih disukai Allah ‘Azza wajla daripada setetes darah di jalan Allah”. (HR Aththahawi).
Betapa mahalnya tetesan air mata yang mengalir itu karena ibadah, tetesan air mata itu menjadi benda berharga. Di tengah-tengah kehidupan yang serba mekanis dan teoritis, fatwa-fatwa pun sudah tidak terdengar bijak dan nyaman untuk didengar kita. Fatwa itu tidak menyentuh lagi, karena banyak yang diobral dan menggombal, bahkan diintrik-intrik oleh muatan politik. Hampir saja kita kehilangan potensi diri.

Di tengah-tengah kehidupan itu, pernahkah kita, barang sekali, menjerit, menumpahkan air mata ketika kita bangun di tengah malam, mengadukan hidup yang penuh dengan nista dan dosa ini kepada Dia yang Maha Rahmat? Ibarat tanah yang gersang, padang yang kering semua, tetumbuhan yang layu, maka datanglah rintik hujan jatuh dari langit, begitulah air mata penyesalan, air mata kerinduan, air mata manusia yang tawadhu’ dan para penaka yang bertaubat, bagaikan menghapus ‘kegersangan’ jiwa yang nista tadi.

Jiwa yang layu menjadi tegak dan tumbuh kembali optimisme, kegelisahan qalbu yang gersang dengan berbagai nista, kini pupus, bagaikan debu-debu yang hanyut terbawa arus. Rasullulah Saw. kekasih Allah, merengguk menumpahkan air mata, karena penuh harap untuk jumpa dengan-Nya? Sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq ra. senantisa menangis ketika menegakkan shalat? Mereka adalah manusia pilihan Allah. Mereka adalah orang-orang yang punya derajat tinggi di depan Allah.Dalam Suatu hadits seusai shalat (fardu) Rasullullah Saw. beristighfar kepada Allah SWT tiga kali, “Ya Allah Engkau Maha Pemberi ketentraman dan perdamaian. Dari Engkaulah datangnya ketentraman dan perdamaian, wahai Rabb yang Maha Memiliki keagungan dan kemuliaan.” (H.R.Muslim).

Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita seperti manusia pilihan Allah itu? Tatkala kita lahir, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita tertawa terbahak-bahak bahagia karena menyambut kedatangan kita, maka ketika kita mati nanti, jadikanlah kita tertawa bahagia karena akan jumpa dengan Allah Sang Maha Kekasih, walaupun orang-orang yang kita tinggalkan menangis pilu karena kehilangan anggota keluarga yang mereka cintai.

Sesungguhnya, menangis di dunia itu lebih baik bagi kita ketimbang kita menangis di akhirat nanti. Sebab itu, sudah sepantasnyalah setiap kita waspadai diri, agar kita terhindar dari kegersangan jiwa yang nista, agar kita terhindar dari tipe manusia yang tidak tahu bertaubat. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah” (HR. Tirmidzi dan Abu Hurairahra).

Kita mengarungi samudra dunia, bukan untuk tenggelam terpikat oleh ilusi fatamorgana. Kayuhlah biduk kehidupan kita, dan seberangi samudra dunia untuk mencapai tujuan abadi surgawi. Kerahkan seluruh potensi untuk tetap survive dalam perjuangan menembus badai samudra, sesekali kita boleh menyelam, tetapi ingatlah! Tujuan kita bukan untuk mati tenggelam, tetapi tujuan kita yang hakiki adalah mencapai pantai kebahagiaan sebagai ultimate goal dari segala makna yang kita berikan untuk kehidupan. Kita tengok wajah kita setiap hari di muka cermin, bersolek dan hiasi tubuh kita, tetapi jangan lupa menengok pigura ruhani kita. Hiasi dan percantik qalbu itu, adakah hari ini iman kita lebih baik dari hari kemarin? Adakah prestasi amal kita lebih baik menyongsong hari-hari yang semakin singkat dan pendek.

Lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang! Tergolek abadi menanti pengadilan akhir dari kehidupan yang panjang.
Ya Allah, apa yang telah diperbuat oleh hamba selama ini? Jawabannya ada dalam dada masing-masing.
Apakah hamba hanya mengumpukan dosa dan menanti kematian? Jawabannya, entahlah, hati kita yang menjawab dengan lancar walaupun lidah terdiam malu. Anas ra. berkata, “Pada suatu hari, Rasullulah Saw berkhutbah, belum pernah saya mendengar khutbah seperti ini, lalu beliau bersabda, ‘Andaikan kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.’ Mendengar ucapan Rasullullah ini, seluruh sahabat menutup mukanya masing-masing sambil menangis tersedu-sedu” (HR Bukhari- Muslim).

Allah berfirman dalam QS an-Najm ayat 59-60, “Apakah setelah mendengar keterangan ini, engkau merasa heran lalu tertawa dan tidak menangis?”
Selanjutnya dalam QS al-Isra: 109, Allah berfirman, “Dan sujudlah/tersungkurlah mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusuk.”
Oleh sebab itu, menangislah sebelum datang hari dimana engkau akan ditangisi.

D. Rofieq Yunus (Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir)

Sumber: Dudung.net
Foto: tohacool’s blog

About these ads
Posted in: Kajian Islami